POLA PENGASUHAN SOSIAL-EMOSIONAL 

PADA ANAK USIA DINI

Oleh: Iqbal Muammar Ibnu Suryanto

hugA. Pendahuluan

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak. Dalam kehidupan anak tentunya keluarga merupakan tempat yang sangat vital. Anak-anak memperoleh pengalaman pertamanya dari keluarga. Dalam keluarga peranan orang tua sangatlah penting. Mereka merupakan model bagi anak. Pernyataan ini dipertegas oleh Alloh didalam surat (at-Tahrim;6) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا

   ‏ مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Juga sabda Nabi Shalallohu `alaihi wa sallam:

كل مولود يولد على الفترة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap bayi dilahirkan diatas fitrah (Islam). Maka orangtualah yang membentuknya menjadi seorang Yahudi, Nasrani ataupun Majusi” (HR.Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dll).

Ketika orang tua melakukan sesuatu, anak-anak akan mengikuti orang tua mereka. Hal ini disebabkan anak dalam masa meniru. Orang tua yang satu dengan orang tua yang lainnya dalam mendidik anak-anak tentunya juga berbeda. Mereka mempunyai suatu gaya atau tipe-tipe tersendiri. Dan tentunya gaya-gaya tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Terutama perkembangan sosio-emosinya. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).

B. Pembahasan

   1. Teori pengasuhan

Pengasuhan merupakan proses yang berlangsung terus menerus yang melibatkan interaksi antara orangtua dengan anak. Pengasuhan sebagai suatu alat untuk melaksanakan suatu rangkaian pengambilan keputusan untuk mensosialisasikan nilai kepada anak. Sedangkan teori-teori yang digunakan dalam pengasuhan pada anak mencakup pada beberapa teori dasar dalam perkembangan manusia, teori-teori tersebut adalah:

a)      Teori psikoanalisis.

b)      Cognitive developmental theory.

c)      Behaviorism

d)     Social learning theory

e)      Genetic, heredity, personality theory

f)       Humanistic theory

g)      Ethological theory

h)      Theory sistem, etological theory

i)        Theory perkembangan moral

   2. Konsep pengasuhan

Pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial.

  • Pengasuhan fisik mencakup semua aktifitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik dengan menyediakan kebutuhan dasarnya.
  • Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasing dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma.
  • Pengasuhan emosi ini mencakup pengasuhan agar anak merasa dihargai sebagai seorang individu, mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan dan untuk mengetahui resikonya. Pengasuhan emosi ini bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabil dan konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
  • Sementara itu, pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya.

   3. Perkembangan EmosiAnak Usia Dini

  • Pengertian Emosi

Emosi adalah Suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa perasaan / pikiran yang ditandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang.

  • Mekanisme Emosi

Proses terjadinya emosi dalam diri seseorang terdiri dari 5 tahapan yaitu :

a)      Elicitors : adanya dorongan peristiwa yang terjadi. contoh : Peristiwa banjir, gempa bumi maka timbullah perasaan emosi seseorang.

b)      Receptors: kegiatan yang berpusat pada sistem syaraf. contoh : akibat peristiwa banjir tsb maka berfungsi sebagai inderapeneri.

c)      State  : perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi. contoh : gerakan reflex atau terkejut pada sesuatu yang terjadi.

d)      Experission : terjadinya perubahan pada rasiologis. contoh : tubuh tegang pada saat tatap muka.

e)      Experience : persepsi dan inter individu pada kondisi emosionalnya.

Menurut Syamsuddin kelima komponen tadi digambarkan dalam 3 variabel yaitu :

1)      Variabel stimulus à rangsangan yang menimbulkan emosi.

2)      Variabel organismik à perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi.

Variabel respon à pada sambutan ekspresik atas terjadinya pengalaman emosic

  • Fungsi Emosi

Fungsi dan peranan pada perkembangan anak yang dimaksud adalah:

a)      Merupakan bentuk komunikasi.Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan  penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.

b)      Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.

c)      Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadisatu kebiasaan.

d)      Ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat aktivitas motorikdan mental anak.

Adapun jenis emosi pada anak meliputi rasa senang, marah, takut dan sedih sebagai basic emotions.

1)      Senang (gembira). Pada umumnya perasaan gembira dan senang di ekspresikan dengan tersenyum (tertawa). Pada perasaan gembira ini juga ada dalam aktivitas pada saat menemukan sesuatu, mencapai kemenangan.

2)      Marah. Emosi marah dapat terjadi pada saat individu merasa terhambat, frustasi karena apa yang hendak dicapai itu tidak dapat tercapai.

3)      Takut. Perasaan takut merupakan bentuk emosi yang menunjukkan adanya bahaya.

4)      Sedih. Dalam kehidupan sehari – hari anak akan merasa sedih pada saat ia berpisah dari yang lainnya.

Dari ke empat emosi dasar tadinya dapat berkembang menjadi berbagai macam emosi yang di klafikasikan kedalam kelompok emosi positif dan emosi negatif.

Contoh dari emosi positif : humor (lucu) , enjoy (Nyaman), kesenangan, rasa ingin tahu, kesukaan. Emosi negatif : tidak sabaran, rasa marah, rasa cemburu, rasa benci, rasa cemas, dan rasa takut.

   4. Perkembangan Sosial

Bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. “Sosialisasi” adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma nilai atau harapan sosial

  • Proses Perkembangan Sosial

Proses sosialisasi ini terpisah, tetapi saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, antara lain :

a)      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang tepat diterima dimasyarakat.

b)      Belajar memainkan peran sosial yang ada dimasyarakat.

c)      Mengembangkan sikap / tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

Berdasarkan ke-3 tahap proses sosial ini individu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu : 1) Individu sosial dan 2)  Individu non sosial. Menurut teori perkembangan psikososial, ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :

a)      Usia anak 0 – 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan “trust” pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan “mistrust” yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.

b)      Usia 2 – 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.

c)      Usia 4 – 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.

d)    Usia 6 – 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai “anak kecil” baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.

   5. Pola asuh Sosial Emosional

Pola asuh sosial emosional termasuk didalamnya adalah pemberian cinta dan ksih sayang dan ketrampilan berhubungan dengan sosial termasuk etika dan nilai. Beberapa manfaat pengasuhan sosial emosional antara lain: (1) Empati, (2)Mengendalikan amarah, (3) Kemandirian, (4) Disukai, ketekunan, (5) Kesetiakawanan, (6) Keramahan dan sikap hormat, (7)  Kemampuan beradaptasi, (8) Kemampuan memecahkan masalah, (9) Kecakapan sosial, (10)Integritas dan konsisten, (11)  Komitmen jujur dan berfikir terbuka, (12) Kreatif, adil, dan bijaksana, (13) Kemampuan mendengarka, (14) Kemampuan berkomunikasi, motivasi, (15) Kemampuan bekerjasama dan (16)Keinginan untuk berkontribusi.

Adapun identifikasi tipe orangtua dalam memahami emosi anak ada tiga:

a)      Orang tua yang mengabaikan,yang tidak menhiraukan, menganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negatif anak mereka.

b)    Orang tua yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak mereka dan barangkali memarahi atau atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya.

c)     Orang tua Laisses-Faire, yang menerima emosi anak mereka dan berempati dengan mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkahlaku anak mereka.

Berikut ini kami berikan langkah-langkahpelatihanemosional anak:

1)      Menyadari emosi anaknya.

2)      Mengakui emosi itu sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar.

3)      Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak.

4)      Menolong anaknya menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang dialaminya.

5)      Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.

Pengaruh dari pola asuh dalam mengembangkan sosial emosional anak, dalam perkembangan sosio-emosional anak, tentu ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhinya. Ada 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio-emosional anak yaitu:

1)      Perlakuan dan cara pengasuhan orangtua. Secara garis besar ada tiga tipe gaya pengasuhan orang tua yakni otoriter, permisif, dan otoritatif.

Tipe Perilaku Orang Tua Karakteristik Anak
Otoriter Kontrol yang ketat dan penilaian yang kritis terhadap perilaku anak, sedikit dialog (memberi dan menerima) secara verbal, serta kurang hangat dan kurang terjalin secara emosional Menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak percaya terhadap orang lain.
Permisif Tidak mengontro, tidak menuntut, sedikit menerapkan hukuman dan kekuasaan, penggunaan nalar, hangat dan menerima Kurang dalam harga diri, kendali diri, dan kecenderungan untuk bereksplorasi
Otoritatif Mengontrol, menuntut, hangat, reseptif, rasional, berdialog (memberi dan menerima) secara verbal, serta menghargai disiplin, kepercayaan diri, dan keunikan Mandiri, bertanggung jawab secara sosial, memiliki kendali diri, bersifat eksplloratif, dan percaya diri

2)      Kesesuaian antara anak dan pengasuh

Dalam proses interaksi antara pengasuh dan anak, perilaku mereka bisa saling mempengaruhi dan menyesuaikan diri satu sama lain sehingga ada penyesuain diri antar masing-masing. Jika terjadi ketidak cocokan antara pengasuh dan anak maka akan berdampak anak mengalami stres, murung, frustasi, dan bahkan menimbulkan rasa kebencian. Jadi pengasuh harus benar-benar bisa menangkap respon apa yang sang anak inginkan, agar terjadi jalinan kasih sayang antara mereka, dan tidak menimbulkan rasa benci.

3)      Temperamen anak.

Temperamen bayi merupakan salah satu hal yang harus dipahami oleh sang pengasuh agar bisa terjalin hubungan yang akrab antara pengasuh dan anak. Ada tiga gaya perilaku bayi yakni bayi yang mudah, bayi yang sulit dan bayi yang lamban. Ciri bayi yang mudah adalah memiliki keteraturan, adaptif, bahagia dan mau mendekati objek atau orang baru. Bayi yang sulit cenderung tidak teratur, tidak senang terhadap perubahan situasi, sering menangis, menempakkan perasaan negatif. Sedangkan bayi yang lamban adalah bayi yang cenderung kurang adaptif, menarik diri, kurang aktif dan intensitas respon kurang.

4)      Perlakuan guru di sekolah

Apa yang guru perbuat di sekolah akan berpengaruh terhadap anak didiknya. Perlakuan guru terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan sosioemosional anak. Pengaruh guru tidak hanya pada aspek kognitif anak, tetapi juga segenap perilaku dan pribadi yang ditampilkan guru di depan anak didiknya, karena secara langsung hal tersebut bisa menjadi pengalaman-pengalaman anak.

Contoh penerapan teknis pengasuhan sosial emosional dapat dilakukan dengan beberapa pola, yaitu:

1)      Bermain pada anak.

Bermain merupakan salah satu cara yang tepat untuk melepaskan atau menumpahkan seluruh energi dan perasaan yang dimiliki anak termasuk didalamnya emosi anak. Selain itu biasanya dengan bermain anak juga dapat mengembangkan hubungan sosial mereka. Permainan yang dapat melatih kecerdasan sosial emosional antara lain:

a)      Film pembelajaran bermuatan nilai sosial emosional.

b)      Ajak anak keluar rumah untuk berinteraksi dengan orang lain.

c)      Ajak anak bermain kelompok (cooperatif play), seperti: sepak bola.

2)      Sentuhan, belaian dan pelukan kepada anak.

Interaksi antara orang tua dengan anak sangat berpengaruh terhadap kecerdasan sosial emosional anak. Sentuhan, belaian dan pelukan yang diberikan kepada anak merupakan beberapa cara yang tepat untuk membangun hubungan baik atau kelekatan antara orang tua dengan anak.

3)      Pemberian kata positif dan empati orang tua terhadap anak.

Kata positif yang diberikan kepada anak membuat anak termotifasi untuk melakukan dan mengulangi perilaku yang positif dan membuat anak percaya diri. Sedangkan empati dari orang tua membuat anak merasa orang tua berada dipihaknya, terutama saat anak memiliki masalah, empati dari orang tua sangatlah penting agar anak dapat lebih tenang dan merasa orang tua merasakan apa yang anak rasakan.

 

C.  Penutup

Untuk meningkatkan kecerdasan emosional pada anak maka perlu adanya peningkatan pengasuhan sosial emosional yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Kecerdasan emosional yang dikembangkan dan diintegrasikan diantaranya; empati, mengendalikan amarah, kemandirian, disukai, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, sikap hormat, kemampuan beradaptasi, kemampuan memecahkan masalah, kcakapan sosial, integritas, konsisten, komitmen jujur, berfikir terbuka, kreatif, adil, bijaksana, kemampuan mendengarkan, kemampuan berkomuniksi, motivasi, kemampuan bekerjasama, keinginan untuk berkontribusi dll.

 


 

DAFTAR PUSTAKA:

1.      Alquran Al-Karim.

2.      Hadits elektronik.

3.      Gottman John. 2008. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak. Jakarta: Gramedia.

4.      Hurlock, Elizabeth B, 1980. Psikologi Perkembangan (Edisi 5). Jakarta: Erlangga.

5.      Utami, Anggun Mei,  2011. Pemahaman tentang Perkembangan Sosio-emosional Anak.

6.      www.kompas.com/pemahaman/perkembangan/sosial-emosional-anak

 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 




 
 
 
  • Contact

  • Link Donasi